Inilah Alasan Kenapa Desain Spanduk Pecel Lele & Soto Lamongan Selalu Sama..!!!


Beneranberita - Spanduk pecel lele dan soto ini pasti pernah Anda lihat. Karena hampir di banyak kaki lima desain spanduk rumah makan ini pasti ada.

Pernahkah Anda bertanya-tanya kenapa setiap desain spanduk restoran pecel lele dan soto ini kok bisa sama terus?


Indonesia memang kaya dengan kulinernya. Dari Sabang hingga Merauke pasti bisa banyak ditemukan makanan-makanan khas yang menggugah selera. Bukan hanya mampu menggoyang lidah siapa pun yang menikmatinya, tapi juga kaya akan kekhasannya masing-masing. Tampilan toko masakan tiap daerah juga berbeda-beda, bergantung pada kekhasannya masing-masing.

Coba deh perhatikan beberapa kios atau warung pecel lele dan soto lamongan di mana pun mereka berada. Semua desain spanduknya itu pasti mirip-mirip malah beberapa malah sama.

Ketika melihat spanduk warung, baik pecel lele maupun soto lamongan, tentunya bisa langsung diresap oleh otak walaupun dari jarak kejauhan.

Hal ini disebabkan karena warung lamongan memiliki desain yang unik dan legendaris yang bisa dibilang wajib digunakan oleh setiap pedagangnya. Iya sih tidak sama persis, tapi tentunya ada kesamaan pola di setiap spanduknya.

Contohnya saja bisa ditemukan gambar aneka hewan yang termasuk di dalam menu makanan, seperti bebek, ayam, lele, dan burung dara yang disandingkan dengan lauk lain. Gambar-gambar tersebut kemudian dilukis pada kain putih.


Spanduk ini serempak menggunakan kain, dan dilukis secara manual.

Di tengah dunia percetakan yang sudah modern, membuat spanduk ala Soto Lamongan tidak lahsulit. Namun para pengusaha soto yang sudah tersebar di berbagai kota di Indonesia ini lebih memilih menggunakan kain yang dilukis secara manual.

Ternyata hal tersebut bukan tanpa alasan, bukan pula hanya melestarikan tradisi terdahulunya. Namun ada fungsi hingga kualitas yang dijaga, dan tidak didapat dari spanduk hasil print digital.

Ada alasan lain juga kenapa tidak menggunakan spanduk plastik, yaitu karena kebanyakan penjual makanan ini berdagang saat malam.

Spanduk plastik di malam hari akan memantulkan cahaya dari kendaraan dan lampu penerangan jalan. Sehingga tulisan yang tertera di spanduk akan samar.

Kalau kain itu sifatnya lebih menyerap cahaya, jadi begitu tersorot lampu kendaraan masih kelihatan. Bahkan kalau lampu di dalam tenda makanannya itu terang, tulisan dengan warna stabilonya akan keluar. Di situlah aura Soto Lamongan, pecel lele maupun seafood terlihat menarik.


Desain tersebut bisa dipilih bukan karena aspek ketidaksengajaan, lho. Spanduk warung tersebut memang sudah menjadi identitas tersendiri bagi warung khas Lamongan, Jawa Timur. Selain itu, biasanya desain spanduk warung tersebut dibuat dalam partai besar. Kain berukuran 100 meter bisa digunakan untuk sepuluh warung. Mengenai tempat pembuatannya, mereka menyebarkan informasi hanya dari mulut ke mulut.

Membuat paguyuban bagi perantau memang lumrah. Hal ini bertujuan untuk menjalin silaturahmi antarsesama. Hal yang sama dilakukan oleh orang Lamongan.

Di Jakarta, mereka membuat paguyuban dengan nama Forum Silaturahmi Putra Lamongan (Pualam) sejak tahun 1952. Paguyuban ini tidak membatasi anggotanya, baik yang berkecimpung di dunia kuliner Lamongan ataupun tidak. Syaratnya ya harus orang Lamongan.

Nah, karena adanya kesamaan profesi antarsesama pedagang kuliner khas Lamongan, mereka kerap melakukan pertemuan secara rutin.

Kuatnya tali persaudaraan yang mengikat para perantau asal Lamongan ini pula yang menjadi penentu kesamaan desain spanduk warung Lamongan di mana pun.