Beratnya Tugas Seorang Intel, Saat siang dia jualan bakso, kalau malam jual sekoteng. Bahkan, intelijen andalan ini kadang menjadi hansip


Meski masuk dalam daftar negara dengan penduduk teramah, nyatanya Indonesia memiliki angka tindakan kejahatan dan kriminal begitu tinggi, bahkan sudah tak bisa terkontrol lagi. Ini jelas menjadi “PR” bagi pihak terkait.

Ditambah, tindakan kejahatan sangat minim barang bukti, sehingga semakin mendorong para aparat penegak hukum untuk bekerja lebih ekstra.

Hal inilah yang akhirnya membuat anggota intelijen polisi memutuskan untuk melakukan penyamaran dengan menjalani berbagai profesi merakyat, seperti pedagang bakso dan penjual sekoteng, seperti yang dilakoni oleh satu perwira di Satreskrim Polrestabes Bandung, Tri.

Dia mengisahkan pengalamannya yang sempat menjajal beragam profesi, sebagai langkah penyamaran untuk menangkap penjahat.


“Pernah kalau siang jualan bakso, malam jualan sekoteng. Pernah juga jadi tukang becak, tukang parkir, jadi hansip pernah. Dijalani sampai berminggu-minggu,” ungkapnya, dilansir dari TribunJambi.com.

Beragam profesi yang dilakoninya itu pun dilakukan di lokasi yang tidak jauh dari tempat kejadian sebuah perkara, agar lebih mudah menggali informasi.

“Karena begini, saksi di lokasi kejadian itu kadang tidak bisa dimintai keterangan jika mengaku sebagai polisi, saksi jadi bungkam atau segan. Untuk menyiasati itu, ya, nyamar,” Tri menjelaskan.

Kendati mengorbankan banyak waktu dan melibatkan uang pribadi, Tri mengaku bahwa teknik penyamaran yang digunakan untuk mengungkap perkara itu menyisakan rasa bangga tersendiri.

“Orang lapangan kalau bisa ungkap kasus itu kepuasaan tersendiri, kadang mereka tidak pikirkan hal lain selain ungkap kasus. Meski kadang keluarga jadi nomor sekian, pengeluaran pribadi hingga barang dijual untuk ungkap kasus. Tapi kalau berhasil diungkap, tentu itu hal sangat membanggakan,” tuturnya.