Sebelum Menikah, Dua Wanita ini Ternyata Sudah Pacaran Lama


Dua Tahun berpacaran, kisah asmara FT dan DS, warga Desa Bukit Makmur Kecamatan Pinang Raya, Kabupaten Bengkulu Utara Provinsi Bengkulu, akhirnya naik ke pelaminan.

Pesta pernikahan digelar lengkap dengan jamuan dan dihadiri undangan warga sekitar. DS menggenakan kebaya merah jambu dan sanggul berhiaskan bunga melati. Semetara FT mengenakan setelan jas hitam kemeja putih lengkap berpeci.

Diapit dua wanita dengan latar hiasan bunga, pernikahan keduanya dikabarkan dikediaman DS, di Dusun IV desa setempat pada Rabu 26 Februari 2020 lalu.

Namun niatan keduanya menjalani biduk rumah tangga kandas sehari setelah melangsungkan pesta pernikahan. Kedok FT terbongkar setelah keluarga DS menelusuri identitas suaminya yang ternyata wanita tulen.

"Informasinya iya, selama ini ditutupi. Sudah dua tahun berpacaran. Yang diundang saat pernikahan cuma warga satu Dusunnya saja," ujar sumber kepada SINDOnews yang enggan disebutkan namanya. (Baca: Heboh Pesta Pernikahan Batal karena Mempelai Prianya Ternyata Wanita).

Berkaca dari peristiwa ini, masyarakat diharapkan dapat lebih jeli dalam menerima orang asing yang belum dikenal sebelumnya. Melengkapi identitas diri sesuai aturan yang berlaku sebagai salah satu syarat pasangan yang akan melangsungkan pernikahan.

"Kami sudah menurunkan personel, jika pihak keluarga merasa dirugikan bisa melapor. Tapi hingga saat ini belum melapor," tegas Kapolres Bengkulu Utara, AKBP Anton Setyo H.

Kisah Terbongkarnya Pernikahan Sesama Perempuan Di Bengkulu


Kisah cinta terlarang antara AS (25) dan DS terpaksa dihentikan. Kedok dua perempuan yang sempat mengecap manisnya madu asmara selama dua hari setelah akad nikah di Desa Bukit Makmur Kecamatan Pinang Raya Kabupaten Bengkulu Utara itu terbongkar.

Keluarga AS, datang dari Kota Bengkulu membuka identitas bahwa AS adalah perempuan. Mereka menjemputnya kembali ke Bengkulu serta menyatakan pernikahan itu tidak sah dan harus dibatalkan.

Nurul Hidayati, warga Kecamatan Ketahun Bengkulu Utara mengatakan, Akad nikah dilaksanakan pada Hari Rabu 4 Maret 2020 di kediaman mempelai perempuan. Hari itu juga dilaksanakan resepsi akad nikah.

"Banyak juga yang datang, mereka semua terkecoh," ujar Nurul saat dihubungi Liputan6.com Minggu 8 Maret 2020.

Prosesi akad nikah dan resepsi berlangsung seperti biasa, tidak ada yang mencurigakan. Sang mempelai pria mengenakan stelan jas warna coklat hitam dan peci, sedangkan mempelai wanita mengenakan kebaya putih berpadu bawahan warna pink dan hiasan bunga mawar merah yang disematkan pada kerudung putih.

Tidak ada yang aneh dan sangat natural ketika keduanya bersanding di Pelaminan. Tamu undangan yang datang juga menikmati hiburan dan santap siang yang disediakan keluarga mempelai tanpa kecurigaan bahwa sang mempelai pria adalah perempuan.

"Info yang beredar membuat kami merinding," jelas Nurul.